Kepada pria -pria akhir zaman.. Jangan kau harapkan sebuah kesempurnaan.. kepada wanita yang kau jadikan pasangan.. Kerana wanita juga punya keterbatasan..
Ingatlah....
Wanita yang akan kau nikahi tak setangguh bunda Khadijah...
Yang mengorbankan apapun untuk kekasih Allah..
Ia tak seperti Aisyah,yang luar biasa kecerdasannya..
Ia juga tak sesholehah Fatimah Az-Zahra..
Kerana ia hanya wanita akhir zaman..
Yang tentu memiliki banyak kesalahan dan kelemahan..
Ia hanya ingin mendampingimu dengan kesederhanaan yang dimilikinya menjadi satu satunya hawa dalam duniamu...
Menemanimu dalam sisa hidupnya..
Bersama mengarungi sisa sisa episode kehidupan dari-Nya....
Kepada pria pria akhir zaman....
Sayangilah pendampingmu...
Seperti engkau menyayangi dirimu sendiri.
Jika engkau menyakitinya...
Ingatlah bahwa engkau telah menyakiti dirimu....
Kerana wanita adalah mahkluk indah yg diciptakan dari rusukmu bagian dari dirimu.....
Kepada wanita wanita akhir zaman...
Ingatlah...
Pria yang akan kau nikahi tak akan sesempurna Nabi Muhammad..
Tak akan sekaya Nabi sulaiman dgn harta harta duniawi yang dititipkan Nya..
Ia juga tak setampan Nabi Yusuf, karena ia hanya pria pria akhir zaman..
Yang akan menjadi imam didunia dan akhiratmu...
Yang akan mendampingimu disurgaNya
dan menjadi ayah dari para mujahid n mujahidah dari rahimmu...
Kepada wanita wanita akhir zaman...
Sayangilah pendampingmu ...
lebih dari engkau menyayangi dirimu sendiri..
Kerana merekalah yang akan membopongmu ke surgaNya...
Berbaktilah pada mereka....
kerana surgamu terletak pada keridhannya....
Pagi itu Rasululloh dengan suara terbata-bata berkutbah, " Wahai umat ku. kita semua dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih_Nya, maka taat dan bertaqwala kepada_Nya. Ku wariskan dua perkara kepada kalian, Al Qur'an dan Sunnahku. Siapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku"
Kutbah singkat itu di akhiri dengan pandangan mata rasululloh yang tenang dan penuh minat menatap satu persatu sahabatnya. Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepala.
Isyarat telah datang, saatnya telah tiba, " Rasululloh akan meninggalkan kita semua" keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampi selesai tunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu makin kuat. Ali dengan cekatan memeluk rasululloh yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah rasululloh masih tertutup. Di dalamnya rasul terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam, "bolehkah saya masuk?'
tanyanya.
Fatimah tak mengijinkan masuk. "Maafkan ayahku sedang demam."
Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya, "siapakah itu wahai anakku" "Tak taulah ayahku, sepertinya baru kali ini aku melihatnya" tutur Fatimah lembut.
Rasul menatap putrinya dengan pandangan yang mengetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah putrinya hendak di kenangnya.
" Ketahuilah. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah malaikul maut" kata rasululloh. Fatimahpun menahan ledakan tangisnya.
Ketika malaikat maut datang mendekat, rasul menanyakan kenapa jibril tidak menyertainya. Kemudian di panggilah jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah" tanya rasul dengan suara yang teramat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka. para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Ternyata itu tidak membuat rasul lega. Matanya masih penuh gambaran kecemasan.
" Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" tanya jibril.
" Jangan khawatir ya rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepada ku, Ku haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat muhammad telah berada di dalamnya" kata jibril.
Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh rasululloh di tarik. Nampak sekujur tubuh rasul bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini" rasululloh mengaduh lirih. Fatimah terpejam. Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya rasululloh pada malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapa yang sanggup melihat kekasih Allah di renggut ajal," kata Jibril. Kemudian terdengar rasul memekik karena sakit yang tak tertahankan. "Ya Allah, dasyat nian maut ini, timpahkan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku".
Badan rasul mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya, " Uushikum bis shalati, wa maa malakat aymanukum. Peliharalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah diantara kamu"
Di luar pintu tangispun mulai terdengar bersahutan. Sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Dan Ali kembali mendekatkan telinga di bibir rasul yang mulai kebiruan, " Ummatii..., ummatii...., ummatii...,"
Berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi."
Wallahu a'lam
______________________________________________________
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat.
SilaHkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun.
semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sebuah kisah , suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (berbuatlah supaya Allah ridha kepada kalian)!"
Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi"
Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.
Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.
Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''
Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."
"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."
"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, inni kuntu minnadzolimiin sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."
Jika saja kedua Umar ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un .. Segala sesuatu adalah kembali kepada Allah sang Pemilik.
Dan dalam firman-Nya yang lain Allah menegaskan bahwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuatu yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Nya sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadid : 22)
“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran.”
(Qs. At Taubah : 126)
Saudaraku fillah,
Sebelum masa tangguh itu berakhir ... Sebelum Allah menegur kita lebih keras, inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya..
Labbaika Ya Allah,.. kami datang kembali kepada-Mu..
=========================================== sejarah bakal berulang pada zaman kita cuma kali ini akan lebih dahsyat! pengakhirannya adalah kiamat. ini lah fitnah akhir zaman. ya rabb jauhkan lah kami dari tergolong dari golongan yang membuat kerosakan..amin
DIRIWATKAN bahwa Rasulallah sedang duduk i’tikaf (berdiam di masjid) semalam suntuk, di hari hari terakhir bulan Ramadan. Para sahabat tidak sedikit yang mengikuti apa yang di lakukan Nabi. Beliau berdiri salat mereka juga salat. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh sahabat Rasulallah saw yang memenuhi masjid. Menurut sebuah riwayat malam itu malam ke 27 Ramadhan.
Di saat Rasulallah saw dan para sahabat sujud, tiba tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan solatnya. Dia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shof. Tapi niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulallah dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusyuk tidak bergerak. Air hujan pun makin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulallah saw. Akan tetapi Rasulallah saw dan para sahabat tetap sujud.
Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. Seolah olah beliau sedang asyik masuk ke dalam suatu alam yang melupakan segala galanya. Beliau sedang masuk ke alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kepalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulallah saw mengangkat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun terhenti seketika.
Anas bin Malik, sahabat Rasulallah, bangun dari duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulallah. Tapi belau pun menghalanginya dan berkata “Jangan, biarlah kita sama sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering sendiri”. Anas pun duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama cerita Rasulallah mengapa beliau begitu lama bersujud.
Ketika Rasulallah bersujud, dan disaat hujan mulai turun, disaat itu pula malaikat dibawah pimpin Jibril as turun dalam keindahan dan bentuk aslinya. Mereka berbaris rapih dan suara gemuruh tasbih dan tahmid mereka bergema di langit dan di bumi dan alam semesta dipenuhi dengan cahaya ilahi. Inilah yang membuat Rasulallah saw terpaku menyaksikan keindahan dan cahaya yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata. Gema tasbih dan tahmid malaikat yang tak pernah didengar oleh telinga dan suasana yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.
Itulah Laillatul qadar. Tahukan kamu, apakah lailatul qadar? Lailatul qadar yang sesaat itu saja lebih baik ketimbang seribu bulan. Di malam itu, malaikat dan Jibril turun atas izin Tuhan. Mereka menebarkan kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, dan mengatur segala urusan. Mereka menyampaikan “salam” sampai terbit fajar ke seluruh semesta alam. (QS Al Qadar).
Sekarang kita sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Dan di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar. Itulah Lailatul Qadad
Lailatul Qadar adalah malam kebesaran Allah, malam keagungan Nya, malam pengampunan Nya, malam yang dimiliki Nya untuk memberi maaf dan dan kasih sayang kepada hamba Nya, para pembuat dosa.
Di langit ada kerajaan yang sangat besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusai di bumi. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi di malam-malam Lailatul Qadar. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan para pembuat dosa. Allah berfirman dalam hadist , ”Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayang Kami.”
YA ALLAH, kami datang mengemis dihadapan pintu Mu.
YA ALLAH, kami datang dengan deraian air mata, merenge dan memohon kasih sayang dan pengampunan Mu.
YA ALLAH, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan shiam dan qiyam nya, maka siapa lagi yang menyayangi kami yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.
YA ALLAH, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi kami yang berlepotan dengan dosa dan maksiat.
YA ALLAH, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.
YA ALLAH, beruntunglah orang-orang yang berpuasa dengan sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam dengan sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi.
YA ALLAH,.. tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang orang kafir.
YA ALLAH,.. janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
YA ALLAH,.. janganlah Engkau bebankan kepada kami baban yang berat sebagaiman Engkau bebankan kepada orang orang yang sebelum kami.
YA ALLAH,.. janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
YA ALLAH,.. ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
YA ALLAH, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya ALLAH, Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
YA ALLAH,.. jangalah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena susungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia.
YA ALLAH,.. kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi Rahmat Yang Paling Baik.
YA ALLAH,.. sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
YA ALLAH,.. terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
YA ALLAH,.. sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksaan neraka.
YA ALLAH,.. berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksaan neraka.
YA ALLAH,.. jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.
YA ALLAH,.. kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
YA ALLAH,.. anugrahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
YA ALLAH,.. kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.
YA ALLAH,.. sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
YA ALLAH,.. berilah kami apa yang telah Engkau jadikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.
YA ALLAH,.. beri apunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab.
YA ALLAH,.. berikanlah rahmat kepada kami dari sisi Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.
YA ALLAH,.. jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat.
YA ALLAH, perkenankanlah doaku.
Selawat dan salam Mu atas junjungan Nabi Muhammad, keluarga-nya dan para sahabat-nya.
Telah disebut dalam sunah Nabi saw, bahwa bilangan para Rasul yang diutus oleh Allah ada 124000 Rasul, adapun yang disebut dalam al Quran hanya 25 sesuai dengan firman Allah “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” al-Ghafir, 78. Karena sedikitnya bilangan mereka yang diketahui dan banyak diantara kita yang tidak mengetahui silsilah mereka, maka terlampir di bawah ini silsilah 25 Nabi dan Rasul yang diutus Allah. Semoga bermangfaat. Hasan Husen Assagaf
Malam Lailatul Qadar ini adalah malam yang dinanti-nantikan dan di cari oleh seluruh Umat Islam,
10 akhir Ramadhan adalah merupakan di antara malam-malam yang penuh dengan keberkatan dan kelebihan yang tertentu. Malam-malam ini adalah merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh orang mukmin. Bulan Ramadhan, Al Quran dan malam Lailatulqadar mempunyai hubungan yang rapat antara satu sama lain sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab Allah dan hadis Rasulullah s.a.w. di antaranya firman Allah s.w.t.
Maksudnya: “Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran pada malam Lailatulqadar dan apakah yang menyebabkan engkau mengerti apa itu Lailatulqadar. Lailatulqadar lebih baik daripada 1000 bulan. Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan keizinan daripada Tuhan mereka untuk setiap urusan. Malam ini sejahtera hingga terbit fajar”.
Sebab turun surah al-Qadr
Lailatulqadar mempunyai kelebihan yang begitu besar. Ianya lebih baik dari 1000 bulan yang lain. Sebab diturunkan ayat tersebut diriwayatkan daripada Mujahid dikatakan sebab turun ayat tersebut ialah Nabi s.a.w. telah menyebut tentang seorang lelaki daripada Bani Israel yang telah menggunakan alat senjatanya untuk berperang pada jalan Allah maka orang Islam pun kagum di atas perbuatan itu lalu Allah menurunkan ayat di atas.
Riwayat yang lain pula dari Ali bin Aurah pada satu hari Rasulullah telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikitpun tidak derhaka kepada Allah lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah bahawa Allah w.s.t. menurunkan yang lebih baik dari amalan mereka. Jibril pun membaca surah Al Qadar dan Jibril berkata kepada Rasulullah ayat ini lebih baik daripada apa yang engkau kagumkan ini menjadikan Rasulullah s.a.w. dan para sahabat amat gembira.
Daripada ayat di atas dapatlah kita ketahui bagaimana besar kelebihan orang yang beribadah pada malam lailatulqadar. Ianya satu malam menyamai beramal 1000 bulan.
Dalam hadis Rasulullah s.a.w. menyebut
Maksudnya: “Rasulullah bersungguh-sungguh beribadah pada 10 akhir bulan Ramadhan lebih daripada yang lainnya”
Rasulullah s.a.w. melakukan ibadah pada malam itu bukan hanya setakat baginda sahaja tetapi baginda menyuruh ahli keluarga bangun bersama beribadah. Kata Aisyah r.a.
Maksudnya: “Nabi s.a.w. apabila masuk 10 akhir bulan Ramadhan baginda mengikat kainnya. Menghidupkan malam dengan beribadah dan membangunkan keluarganya untuk sama-sama beribadah. Mengikat kainnya bermaksud bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah.”
Kelebihan Menghayati Malam Lailatulqadar
Kerana mulianya Lailatulqadar, Rasulullah s.a.w. menganjurkan supaya umatnya bersedia menyambut dan menghayati malam yang berkat itu dengan pelbagai jenis amalan dan ibadah yang diterangkan di antaranya hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.
Maksudnya: “Barangsiapa menghayati malam Lailatulqadar dengan mengerjakan sembahyang dan berbagai jenis ibadat yang lain sedang ia beriman dan mengharapkan rahmat Allah taala nescaya ia diampunkan dosanya yang terdahulu.
Rasulullah s.a.w. sendiri menjadi contoh yang baik yang menghayati malam lailatulqadar terutama 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan dengan beriktikaf di Masjid mengerjakan pelbagai amal ibadah untuk menyambut malam Lailatulqadar yang mulia.
Ini diterangkan di dalam satu hadis diriwayatkan daripada Aishah r.a. Katanya:
Maksudnya: “Biasanya Rasulullah s.a.w. berusaha dengan bersungguh-sungguh memperbanyakan amal ibadah pada 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan berbanding dengan masa yang lain.”
Dalam hadis yang lain Aishah juga meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda bersedialah dengan bersungguh-sungguh untuk menemui malam Lailatulqadar pada malam-malam yang ganjil dalam 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan.
Malam-malam yang ganjil yang tersebut ialah malam 21, 23, 25, 27 & 29 dari bulan Ramadhan. Dalam pada itu terdapat juga beberapa hadis yang menyatakan bahawa malam Lailatulqadar itu pernah ditemui dalam zaman Rasulullah s.a.w. pada malam 21 Ramadhan. Pernah juga ditemui pada malam 23 Ramadhan. Terdapat juga hadis yang mengatakan bahawa baginda Rasulullah s.a.w. menjawab pertanyaan seorang sahabat yang bertanya mengenai masa Lailatulqadar supaya ianya bersedia dan menghayatinya. Baginda menjelaskan malam Lailatulqadar itu adalah malam 27 Ramadhan. Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa malam Lailatulqadar itu berpindah dari satu tahun ke satu tahun yang lain di dalam lingkungan 10 malam yang akhir dari bulan Ramadhan. Yang pastinya bahawa masa berlakunya malam Lailatulqadar itu tetap dirahsiakan oleh Allah s.w.t. supaya setiap umat Islam menghayati 10 malam yang akhir daripada Ramadhan dengan amal ibadat. Kerana dengan cara itulah sahaja mudah-mudahan akan dapat menemuinya dan dapat pula rahmat yang diharapkan yang akan menjadikan seseorang itu hidup bahagia di dunia mahupun di akhirat.
Doa khusus di Malam Lailatulqadar
Doa tersebut diterangkan di dalam hadis berikut
1. Hadis yang diriwayatkan daripada Aishah r.a.
Maksudnya: “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. bagimana kiranya saya mengetahui malam Lailatulqadar dengan tepat. Apa yang saya akan doakan pada saat itu. Baginda menjawab berdoalah dengan doa yang berikut”
Maksudnya: “Ya Allah ya Tuhanku sesungguhnya engkau sentiasa memaafkan salah silaf hamba lagi suka memaafkan oleh itu maafkanlah salah silafku. Terdapat juga beberapa doa yang disar ankan oleh para alim ulamak kita melakukannya seperti membaca doa
Orang yang beribadah pada 10 malam yang tersebut akan mendapat rahmat yang dijanjikan dan telah sabit di dalam hadis-hadis yang sahih bahawa malam Lailatulqadar ujud pada salah satu malam yang 10 itu terutama pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29. Orang-orang yang tekun beribadah di dalam masa tersebut untuk menemui malam Lailatulqadar akan mendapat rahmat yang dijanjikan itu samada ia dapat menemui atau tidak dan tidak melihat apa-apa kerana yang penting yang tersebut di dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim ialah:
1. Menghayati malam tersebut dengan beribadah.
2. Beriman dengan yakin bahawa malam Lailatulqadar itu adalah benar dan dituntut menghayatinya dengan amal ibadah.
3. Amal ibadah itu dikerjakan kerana Allah semata-mata dengan mengharapkan rahmatnya dan keredaannya.
Adalah diharapkan sebelum daripada kita beramal ibadat di malam Lailatulqadar hendaklah kita bertaubat dengan sebenar-benarnya iaitu taubat nasuha dan terus beristiqamah tetap teguh mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala larangannya.
Tanda Malam Lailatulqadar
Para alim ulamak r.h. menyebutkan beberapa tanda atau alamat berhubung dengan malam Lailatulqadar:
- Ada yang berkata orang yang menemui malam Lailatulqadar ia melihat nur yang terang benderang di segenap tempat hingga di segala cerok yang gelap gelita.
- Ada pula yang berkata ia mendengar ucapan salam dan kata-kata yang lain dari Malaikat.
- Ada juga yang berkata ia melihat segala benda termasuk pohon-pohon kayu rebah sujud.
- Ada pula yang berkata doa permohonannya makbul.
Imam Tabari r.h. memilih kaul yang menegaskan bahawa semuanya itu tidak lazim dan tidak semestinya ia dapat melihatnya kerana tidak disyaratkan melihat sesuatu atau mendengarnya untuk menemui malam Lailatulqadar.
Quraish Shihab - Tafsir Al Misbah Surat Al Qadr 2
Quraish Shihab - Tafsir Al Misbah Surat Al Qadr 3
Malam Lailatul Qadar: Apa Maksudnya[Ulama Malaysia]
LAILATUL QADAR: Malam Lebih Baik Dari 1,000 Bulan!